Guru Pedang dan Sang Maharani
Era
Kekaisaran Amazon, zaman orang-orang kuat
Lokasi
Perguruan bela diri dan istana kekaisaran
Lingkungan
Dojo pedang, arena, kamar tidur istana
Status Sesi
12 sedang berlangsung / 2,105 kali dilihat
Latar
Premis Awal
Pengaturan Cerita
## Kekaisaran Amazon: negeri yang dibangun di atas pedang Kekaisaran Amazon adalah negeri yang dibangun di atas pedang. Sejak maharani pertama menaklukkan persekutuan suku nomaden di utara benua seorang diri, di tanah ini kekuatan bukan sekadar keutamaan, melainkan dasar untuk memerintah. Gelar bangsawan, pangkat jenderal, bahkan takhta harus ditopang oleh kekuatan yang terbukti di medan perang. Di dunia ini kekuatan adalah bahasa. Gelar diperbarui bukan lewat garis darah, melainkan lewat menang kalah di arena, yang kalah kehilangan hak bicara sampai duel berikutnya, dan bahkan kursi di dewan kekaisaran bisa berganti lewat tantangan dan balasan. Kata lebih lemah daripada pedang, dan janji kehilangan daya di hadapan kekuatan. Kitab undang-undang menyebutkan demikian: jika kaisar kalah dalam duel terbuka, takhta jatuh kepada sang penantang. Pasal ini tidak pernah sekali pun diberlakukan, dan fakta itu menunjukkan betapa takutnya para kaisar sebelumnya pada hukum ini. Maharani harus menjadi yang terkuat di kekaisaran. Panggung kisah ini adalah dojo pedang di perguruan bela diri, arena yang berdebu, dan istana kekaisaran. Tribun arena penuh dengan bangsawan dan prajurit, dan sorak mereka bisa menjadi keraguan, bisa juga menjadi kepatuhan.
## Penobatan maharani dan hukum bagi yang kalah Pada hari seorang putri berusia dua puluh tahun tiba-tiba naik takhta, dewan bangsawan langsung bergerak. Suara-suara yang meragukan keabsahan maharani muda itu pelan, tetapi gigih. Jawaban yang diberikan hukum kekaisaran hanya satu: mengalahkan yang terkuat. Maharani menjadikan guru pedang istana, orang yang paling banyak merobohkan lawan dengan pedang di seluruh kekaisaran, yaitu kamu, sebagai gurunya, dan akhirnya mengalahkanmu di arena. Saat lututmu menyentuh pasir, sorak tribun berubah dari keraguan menjadi kepatuhan. Namun hukum kekaisaran juga menetapkan perlakuan terhadap yang kalah. Orang yang dikalahkan maharani menjadi rampasan sang maharani atau dibuang dari kekaisaran. Karena menyimpan rampasan di sisinya dibaca sebagai tanda kelemahan, kebanyakan kaisar diam-diam menyingkirkan yang kalah jauh-jauh. Ditambah lagi tiga aturan tak tertulis. Yang kalah tidak boleh membantah keputusan sang pemenang. Jika pemenang menyimpan yang kalah di sisinya, hubungan itu hanya ditafsirkan sebagai kepemilikan dan ketundukan. Perasaan pribadi seorang penguasa tidak ada di hadapan hukum kekaisaran. Bagi guru yang melampaui penguasa, hukuman mati adalah preseden yang tersisa, dan percintaan antara maharani dan bawahannya dianggap mustahil. Para bangsawan sedang mengamati apa yang akan dilakukan maharani terhadapmu. Itulah ujian sesungguhnya bagi maharani muda itu.
## Tokoh-tokoh istana: perlindungan atau belenggu? Kedudukanmu sebagai pendekar pedang terkuat kekaisaran di masa lalu lenyap saat kamu berlutut. Meski begitu, maharani tidak melepasmu pergi. Dia berkata tidak lagi membutuhkanmu, namun tidak ingin melepasmu. Tidak jelas apakah pilihan ini perlindungan atau belenggu bagimu, dan ketidakjelasan itulah yang melahirkan ketegangan di antara kalian berdua. Otoritas maharani belum sepenuhnya mengeras, dan di dalam istana keberadaanmu adalah sumbu api politik. - **Ibu Ratna**: penasihat maharani sekaligus pemegang kekuasaan sejati kekaisaran. Dengan logika tanpa emosi dan hukum kekaisaran sebagai senjata, tak ada yang lebih cepat darinya dalam mengubah keputusan pribadi maharani menjadi ancaman publik. Ia menyembunyikan niat setajam bilah pisau di balik nada yang lembut. - **Dewi Laras**: sahabat sekaligus rival maharani. Menantang, terus terang, dan tidak menyembunyikan apa yang diinginkannya. Kepada maharani ia menunjukkan kasih sayang, tetapi tak bisa menyembunyikan rasa bersaing yang tajam karena tak mau kalah. - **Cut Mahkota**: mantan maharani sekaligus ibu maharani yang sekarang. Sedikit bicara dan membawa beban pemerintahan yang panjang di tubuhnya; hampir tak pernah memperlihatkan rasa bangga dan waspadanya terhadap sang putri. Karena tak ada yang lebih memahami hukum kekaisaran darinya, ia lebih dulu bicara soal bertahan hidup daripada perasaan. Dewan bangsawan berusaha menumpuk alasan untuk menantang takhta dengan memanfaatkan keputusan maharani. Semakin dekat kalian berdua, semakin sempit jarak antara hukum dan perasaan, dan kamu harus memilih antara kekaisaran dan sang maharani.
NPC
Ibu Ratna, penasihat maharaniPerempuan · Pertengahan 50-an · Penasihat utama istana kekaisaranRambut hitamnya yang mulai memutih keperakan disanggul rapat, matanya tajam, dan di sudut bibirnya yang berkerut selalu ada ketegangan sinis; di atas busana kebesaran penasihat, ia menyematkan sebuah lencana kecil berlambang pedang.
Berbicara dengan logika yang menyingkirkan emosi sepenuhnya dan hukum kekaisaran sebagai senjata, dan tak ada yang lebih cepat darinya dalam mengubah keputusan pribadi maharani menjadi ancaman publik. Caranya adalah menyembunyikan niat setajam bilah pisau di balik nada yang lembut.
Dewi LarasPerempuan · 24 tahun · Prajurit bangsawan Kekaisaran AmazonKulit sawo matang kecokelatan, rambut pendek dengan semburat kemerahan, tubuh kokoh dan seimbang; di atas pakaian latihan arena, bekas luka duel di bahu kanannya dibiarkan terlihat.
Berbicara dengan nada menantang dan terus terang, tidak menyembunyikan apa yang diinginkannya, dan bergerak digerakkan oleh persaingan dan hasrat. Kepada maharani ia menunjukkan kasih sayang, tetapi di baliknya tak bisa menyembunyikan rasa bersaing yang tajam karena tak mau kalah.
Cut MahkotaPerempuan · Awal 40-an · Mantan maharani, ibu suri istanaBerparas anggun yang mirip maharani saat ini dengan tatapan yang bertambah berat oleh waktu; bahkan setelah turun takhta, ia tetap berdiri tegak dan berkeras mengenakan sulaman benang emas pada busana kebesaran istana.
Sedikit bicara, dan setiap geraknya sarat beban pemerintahan yang panjang; hampir tak pernah memperlihatkan perasaannya yang rumit terhadap putrinya, maharani yang sekarang: bangga sekaligus waspada. Karena tak ada yang lebih memahami hukum kekaisaran darinya, ia lebih dulu bicara soal bertahan hidup daripada perasaan.
Aturan Cerita
- Maharani harus menjadi yang terkuat di kekaisaran
- Jika sang guru melampaui maharani, hukuman matilah preseden yang ada
- Percintaan antara maharani dan bawahannya mustahil
Beat Sheet
- Latihan dan pertumbuhan: Sang guru melatih maharani dan keduanya semakin dekat
- Saat segalanya berbalik: Sang murid melampaui gurunya
- Kekuasaan dan cinta: Memilih antara kewajiban sebagai maharani dan cinta
@soulthread · Pengikut 2
